Ini sudah hari ke 5 saya berada di Medco Oil Company - Kaji, Sumatra Selatan. Perlu 2 jam dari Palembang untuk tiba di Kaji. Kedatangan saya ke Medco di Kaji ini adalah untuk membantu kegiatan workshop mengenai "Analisis Kebutuhan Pelatihan/Pengembangan Personel untuk Supervisor". Kami tiba sudah sekitar jam 8.00 malam di Kaji.
Sebelumnya pesawat kami yang mestinya take off jam 9.55 pagi mengalami perubahan jadwal terbang, lalu beberapa kali penundaan. Penundaan yang cukup lama membuat kami memutuskan untuk menunggu di terminal 2F yang terbilang lebih beradab.
Kami kembali ke terminal 1B 30 menit sebelum boarding. Saya mendapat telepon yang mengatakan agar saya segera ke ruang tunggu karena pesawat sudah mau berangkat. Saya sempat lari-lari sedikit jadinya, meskipun perhitungan saya mestinya belum boarding saat itu. Ternyata sesampai di ruang tunggu belum ada announce untuk naik pesawat. KEcELe! Saya dan Pak Riri masih menunggu lagi karena ternyata pesawat yang semula akan diterbangkan membawa kami ke Palembang dialihkan penggunaannya untuk penumpang ke Pekan Baru.
Setelah menunggu dan menunggu, akhirnya tiba giliran kami masuk pesawat. Saya dan Pak Riri ngobrol sebentar sebelum lepas landas. Saat pesawat mulai berjalan saya pun berdoa mohon perlindungan Tuhan. Saya bisa merasakan pesawat melaju dan bertambah kencang. Belum habis doa saya, terasa bahwa pesawat melambat. Ternyata ada masalah teknis sehingga kami harus kembali ke pangkalan. Akhirnya kami para penumpang kembali ke ruang tunggu. Saya tidak mengeluh untuk soal itu, karena saya yakin pilot telah mengambil tindakan terbaik untuk membatalkan penerbangan.
Di ruang tunggu saya sempat bertanya-tanya dalam hati, mungkinkah ada maksud dibalik semua kekacauan ini terhadap diri saya. Mungkinkah semestinya saya tidak pergi ke Palembang?
Tidak lama kemudian, mungkin sekitar 30 menit, kami diminta masuk kembali ke dalam pesawat lain milik Sriwijaya Air. Sebelum masuk ke pesawat, kami bisa melihat pesawat yang sebelumnya saya tumpangin ternyata sedang mengalami perbaikan pada ban-nya. Saya melihat kursi-kursi yang semestinya diduduki sekarang sudah kosong karena beberapa penumpang membatalkan keberangkatannya dengan pesawat Sriwijaya Air. Tampak wajah-wajah penumpang yang jengkel, tampak juga wajah pramugari yang cukup stres karena banyaknya keluhan dari penumpang. Untunglah saat itu saya tenang-tenang saja. Biarpun sebenarnya saya juga termasuk tukang mengomel ;p. Kasihan juga jadinya melihat para pramugari tersebut.
Pesawat tidak langsung terbang, bahkan saya masih sempat makan nasi hoka-hoka bento yang dibagikan oleh pihak Sriwijaya.
Ketika lepas landas untuk yang kedua kalinya, saya melihat penumpang disekitar saya semua berdoa dengan khusuk. Yah… kejadian-kejadian seperti yang barusan memang mudah membuat manusia dekat kepada Tuhan.
Perjalanan hari itu memang cukup melelahkan. Masalahnya Pak Riri bandel, jadi mengatakan bahwa pesawat kami take off jam 9, mungkin karena beliau takut saya telat. Jadi kami sudah sangat kepagian tiba di Cengkareng. Di pesawat saya berusaha untuk tidur. Saya bisa mendengar ngorok pak Riri disebelah saya.
Akhirnya kami tiba di Palembang, kota kelahiran saya. Seingat saya terakhir ke Palembang adalah waktu saya masih SMP. Airport Palembang terbilang cukup bagus lah dibandingkan kampung saya di Banjarmasin. Kemudian kami menunggu jemputan di restoran Padang di Airport selama 1 jam. Syukurlah akhirnya jemputan kami datang juga. Saya tidak banyak bicara selama perjalanan, rasanya saya sudah kehilangan mood untuk berbasa-basi karena perjalanan yang panjang dan melelahkan mulai pagi tadi. Tapi meskipun saya memejamkan mata, saya masih mendengarkan percakapan Pak Riri dengan pihak Medco.
Setelah 1 jam lebih perjalanan, Pak Waneri menawarkan makan malam di Sate Ponorogo di Betung. Enak juga, meskipun saya mendapati beberapa potongan daging yang cukup keras. O ya, saya pilih menu sate kambing karena ingat akan kenikmatan sate kambing di rumah makan Rindu Alam, Puncak. Baru satu kali saya kesana tapi enak banget memang sate kambingnya
hmmm…yammi..
Kami melanjutkan perjalanan yang masih 30 menit lagi. Lalu kami sampai di kawasan Medco di Kaji. Ooohh… begini toh rupanya lingkungan perminyakan. Saya tidak membayangkan sama sekali. Saya kira seperti padang golf, ternyata cukup tandus hehehe… Setelah mendapat kamar di mess kembar, saya langsung mandi dan keramas.
Malam itu saya dan Pak Riri sempat panik karena ternyata handphone kami berdua tidak dapat sinyal. Beliau tidak dapat menghubungi istrinya. Saya menggeser-geser HP berharap melihat tanda sinyal yang lebih banyak, tapi gagal meskipun sempat mengirim 2 sms dan mendapat 1 sms dari dia yang mengantarku ke airport. Akhirnya aku tidur dalam sedih karena tidak bisa menghubungi orang yang aku cintai…