Mengapa Aku Jadi Jatuh Hati Padanya…

November 22nd, 2007 by imelda-siagian

Dia memahami kebiasaanku dan tidak merasa terganggu

Dia menerima kekonyolanku dan tertawa karenanya

Dia menyukai rambutku yang berantakan

Dia melihatku sangat indah biarpun aku sering mengeluhkannya

Dia memahami keluargaku ketimbang kerinduannya bertemu aku

Dia mengasihi dan memelihara sanak keluarganya

Dia berusaha memberikan yang terbaik dari yang dia bisa

Dia rela berkorban untuk orang-orang yang dikasihinya

Dia menjagaku dari kebiasaan burukku

Dia menutup toples kerupuk ketika aku mulai terbatuk

Dia mengajakku menikmati keadaan yang menyebalkan

Dia mengajarku bersyukur dan berpikir positif

Dia mendengarkanku dengan hatinya

Dia membuatku menangis karena haru bahagia

Dia tidak memiliki hal-hal tidak penting yang pernah aku minta

Dia memiliki yang sesuatu lebih penting yang kuperlukan tapi justru tidak kusadari….

(Ditulis: 14 November 2007)

Perjalananku ke Kaji-Sumatra Selatan

November 1st, 2007 by imelda-siagian

Ini sudah hari ke 5 saya berada di Medco Oil Company - Kaji, Sumatra Selatan. Perlu 2 jam dari Palembang untuk tiba di Kaji. Kedatangan saya ke Medco di Kaji ini adalah untuk membantu kegiatan workshop mengenai "Analisis Kebutuhan Pelatihan/Pengembangan Personel untuk Supervisor". Kami tiba sudah sekitar jam 8.00 malam di Kaji.

Sebelumnya pesawat kami yang mestinya take off jam 9.55 pagi mengalami perubahan jadwal terbang, lalu beberapa kali penundaan. Penundaan yang cukup lama membuat kami memutuskan untuk menunggu di terminal 2F yang terbilang lebih beradab.

Kami kembali ke terminal 1B 30 menit sebelum boarding. Saya mendapat telepon yang mengatakan agar saya segera ke ruang tunggu karena pesawat sudah mau berangkat. Saya sempat lari-lari sedikit jadinya, meskipun perhitungan saya mestinya belum boarding saat itu. Ternyata sesampai di ruang tunggu belum ada announce untuk naik pesawat. KEcELe! Saya dan Pak Riri masih menunggu lagi karena ternyata pesawat yang semula akan diterbangkan membawa kami ke Palembang dialihkan penggunaannya untuk penumpang ke Pekan Baru.

Setelah menunggu dan menunggu, akhirnya tiba giliran kami masuk pesawat. Saya dan Pak Riri ngobrol sebentar sebelum lepas landas. Saat pesawat mulai berjalan saya pun berdoa mohon perlindungan Tuhan. Saya bisa merasakan pesawat melaju dan bertambah kencang. Belum habis doa saya, terasa bahwa pesawat melambat. Ternyata ada masalah teknis sehingga kami harus kembali ke pangkalan. Akhirnya kami para penumpang kembali ke ruang tunggu. Saya tidak mengeluh untuk soal itu, karena saya yakin pilot telah mengambil tindakan terbaik untuk membatalkan penerbangan.

Di ruang tunggu saya sempat bertanya-tanya dalam hati, mungkinkah ada maksud dibalik semua kekacauan ini terhadap diri saya. Mungkinkah semestinya saya tidak pergi ke Palembang?

Tidak lama kemudian, mungkin sekitar 30 menit, kami diminta masuk kembali ke dalam pesawat lain milik Sriwijaya Air. Sebelum masuk ke pesawat, kami bisa melihat pesawat yang sebelumnya saya tumpangin ternyata sedang mengalami perbaikan pada ban-nya. Saya melihat kursi-kursi yang semestinya diduduki sekarang sudah kosong karena beberapa penumpang membatalkan keberangkatannya dengan pesawat Sriwijaya Air. Tampak wajah-wajah penumpang yang jengkel, tampak juga wajah pramugari yang cukup stres karena banyaknya keluhan dari penumpang. Untunglah saat itu saya tenang-tenang saja. Biarpun sebenarnya saya juga termasuk tukang mengomel ;p. Kasihan juga jadinya melihat para pramugari tersebut.

Pesawat tidak langsung terbang, bahkan saya masih sempat makan nasi hoka-hoka bento yang dibagikan oleh pihak Sriwijaya.

Ketika lepas landas untuk yang kedua kalinya, saya melihat penumpang disekitar saya semua berdoa dengan khusuk. Yah… kejadian-kejadian seperti yang barusan memang mudah membuat manusia dekat kepada Tuhan.

Perjalanan hari itu memang cukup melelahkan. Masalahnya Pak Riri bandel, jadi mengatakan bahwa pesawat kami take off jam 9, mungkin karena beliau takut saya telat. Jadi kami sudah sangat kepagian tiba di Cengkareng. Di pesawat saya berusaha untuk tidur. Saya bisa mendengar ngorok pak Riri disebelah saya.

Akhirnya kami tiba di Palembang, kota kelahiran saya. Seingat saya terakhir ke Palembang adalah waktu saya masih SMP. Airport Palembang terbilang cukup bagus lah dibandingkan kampung saya di Banjarmasin. Kemudian kami menunggu jemputan di restoran Padang di Airport selama 1 jam. Syukurlah akhirnya jemputan kami datang juga. Saya tidak banyak bicara selama perjalanan, rasanya saya sudah kehilangan mood untuk berbasa-basi karena perjalanan yang panjang dan melelahkan mulai pagi tadi. Tapi meskipun saya memejamkan mata, saya masih mendengarkan percakapan Pak Riri dengan pihak Medco.

Setelah 1 jam lebih perjalanan, Pak Waneri menawarkan makan malam di Sate Ponorogo di Betung. Enak juga, meskipun saya mendapati beberapa potongan daging yang cukup keras. O ya, saya pilih menu sate kambing karena ingat akan kenikmatan sate kambing di rumah makan Rindu Alam, Puncak. Baru satu kali saya kesana tapi enak banget memang sate kambingnya ;) hmmm…yammi..

Kami melanjutkan perjalanan yang masih 30 menit lagi. Lalu kami sampai di kawasan Medco di Kaji. Ooohh… begini toh rupanya lingkungan perminyakan. Saya tidak membayangkan sama sekali. Saya kira seperti padang golf, ternyata cukup tandus hehehe… Setelah mendapat kamar di mess kembar, saya langsung mandi dan keramas.

Malam itu saya dan Pak Riri sempat panik karena ternyata handphone kami berdua tidak dapat sinyal. Beliau tidak dapat menghubungi istrinya. Saya menggeser-geser HP berharap melihat tanda sinyal yang lebih banyak, tapi gagal meskipun sempat mengirim 2 sms dan mendapat 1 sms dari dia yang mengantarku ke airport. Akhirnya aku tidur dalam sedih karena tidak bisa menghubungi orang yang aku cintai…

BERCERITA DENGAN TUHAN

June 26th, 2007 by imelda-siagian

Ah, malas sekali rasanya untuk berdoa sebelum tidur saat ini. Sudah ngantuk dan capek karena pergi seharian. Aku bersila di tempat tidur, rasanya ingin sekali langsung merebahkan diri dan tertidur pulas.

Aku kok begitu sih, masakan tidak bisa meluangkan waktu sebentar bersama Tuhan, hatiku menegur. Lalu aku berdiam dalam keheningan dan merenung. Dalam hati aku berkata, “Tuhan, Engkau kan sudah tahu semuanya.” 

Tapi terdengar suaraNya, “Iya, tapi Aku ingin mendengar ceritamu. Engkau selalu bercerita dengan orang-orang yang kau temui. Aku ingin engkau bercerita juga denganKu.” 

Aku terdiam, dan akhirnya aku hanya mengungkapkan sedikit perasaanku saja kepadaNya.

Setelah itu, seperti layaknya orang yang sedang saling ngobrol, aku balik bertanya, “Kalau Tuhan sendiri ngapain aja hari ini? Pasti enak ya di surga, Tuhan pasti jalan-jalan di taman indah sambil mendengarkan musik yang dimainkan oleh malaikat-malaikat di sorga.”

Dengan lembut Dia menjawabku, “Tidak. Hari ini Aku pergi ke lorong-lorong yang gelap dan kotor, Aku menyeberangi lautan dan menemui banyak orang di benua-benua, menghampiri mereka yang sibuk di kota-kota besar,  di jalan, di tempat keramaian, dan tempat lainnya untuk menyapa mereka dengan kasihKu. Meskipun banyak orang yang tidak mendengar sapaanKu karena sedang sibuk dengan urusannya masing-masing.”

Aku tertegun, oh, bayanganku salah rupanya, ternyata Dia sibuk sekali hari ini. Setelah beberapa detik terdiam aku bertanya lagi, “Lalu, Tuhan ngapain setelah itu?”

Kembali Dia menjawabku, “Lalu malam ini Aku mampir ke lantai dua di kamarmu, untuk mendengarkan ceritamu.” 

Airmataku pun menetes. Ternyata Tuhan masih menyempatkan waktu untuk mendengarkan celotehku.

(Published in Kasut no. 47 Tahun X/Juni 2006)